Mudahnya Memvonis Golongan Lain Bid’ah

5 06 2009

Mudahnya Memvonis Golongan Lain Bid’ah
Jumat, 05 Juni 2009 04:21
(disadur dari warnaislam.com)

Ust Ahmad Sarwat, Lc

Pertanyaan

Assalamu’laikum ya ustadz.

Saya mau bertanya. Mengapa kelompok salafi begitu mudahnya memvonis kelompok lain bid’ah. Seperti memvonis para pendakwah dari yang orang bilang kelompok jamaah tablig. Padahal mereka sering kali berdakwah sampai kepelosok untuk menyebarkan ajaran Allah dan RosulNya.

Terima kasih ustadz. Wassalam.

aa

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Urusan main vonis, main tuduh main diskriditkan saudara sendiri, sebenarnya bukan hanya terjadi di kalangan yang mengaku sebagai salafy saja. Tanpa sadar, terkadang tindakan dan sikap seperti itu sering juga kita lakukan, meski dengan kadar yang berbeda.

Sayangnya, begitu seseorang atau satu pihak merasa kurang sepakat dengan apa yang menjadi pendapat saudaranya, dia lantas bicara di mimbar umum, baik dalam ceramah atau pun media massa.

Sehingga akhirnya orang yang tidak tahu urusan akhirnya jadi ikut-ikutan. Perbedaan yang pada dasarnya sangat sederhana, akhirnya menjadi fitnah dan kebencian, ketika masalahnya kemudian dibuka di publik.

Harus diakui, ini adalah tipikal kita secara keseluruhan. Bukan milik hanya satu kelompok saja.

Dakwah Kehilangan Kesantunan

Entah siapa yang memulai, tetapi saat ini boleh dibilang bahwa gaya dakwah kita secara umum tanpa harus menunjuk hidung, sudah kehilangan nilai-nilai kesantunan. Seolah siapa pun yang pendapatnya tidak sama dengan pendapat kita, harus jadi lawan. Dan yang namanya lawan, harus dilumat dan dipermalukan di depan publik.

Tentu saja yang dilecehkan di depan publik tidak bisa terima dengan cara-cara yang melanggar sunnah nabi itu. Walau pun ngakunya ingin menghidupkan sunnah nabi, tetapi karena caranya -lagi lagi masalah cara- yang tidak manusiawi, maka bukannya yang diingatkan itu sadar, tetapi malah merencanakan untuk’membalas dendam’.

Lalu terjadilah perang cacian, makian, kutukan dan sumpah serapah di antara dua pihak yang sama-sama mengaku umat Muhammad SAW, naudzu billahi min dzalik.

Tidak adakah jalan damai dan bahasa santun yang bisa digunakan? Sedemikian mati kah hati kita sehingga saudara kita sendiri sudah kita jadikan enemy?

Lihat saja apa yang dilakukan oleh sebagian saudara kita, meski judulnya mau memberantas bid’ah, tetapi mungkin karena caranya kurang santun, yang terjadi malah hujatan dan makian di depan publik.

Tentu saja yang dihujat dan dimaki meradang. Bukannya mengkaji apa yang diingatkan, tetapi yang terpikir kemudian adalahbagaimana caranya untuk membalas ‘serangan’.

Sebagai contoh paling klasik aalah perseteruan antara kalangan yang dilabelkan sebagai kelompok wahabi yang memang tidak pernah akur dengan pihak yang sering disebut sebagai kalangan tradisional.

Yang satu menuduh saudaranya sebagai ahli bid’ah, yang dituduh balas mencaci dengan mengatakan bahwa lawannya itu sebagai keturunan maling atau penyamun gurun pasir.

Yang satu menganggap dirinya adalah satu-satunya sumber kebenaran, yang lain menganggap dirinya adalah pelaksana sunnah nabi. Kedua-duanya mengaku muslim dan sedang berdawah, tetapi sayangnya keduanya sibuk berbaku hantam dan ditonton orang banyak.

Mungkin urat malunya sudah pada hilang…

Mencaci = Prestasi

Yang lebih parah, ada anggapan aneh bahwa bila bisa mencaci saudara sendiri di mimbar bebas, seorang merasa sudah melaksanaka amar makruf nahi mungkar. Dan tindakan itu dianggapnya sebagai prestasi yang bisa dibanggakan.

Nanti dia akan cerita kepada teman-temannya bahwa dia sudah berhasil berdakwah, buktinya dirinya sudah sempat mencaci maki kelompok yang berbeda pendapat dengannya. Seolah-olah kalau sudah mencaci maki, berarti masalah sudah selesai, prestasi sudah diraih.

Ini bukan hanya terjadi pada kalangan salafy yang anda ceritakan, tetapi boleh dibilang ini sudah khas menjadi ciri kita sebagai muslim secara keseluruhan. Seolah kalau seorang ustadz dalam pidatonya belum sempat caci sana maki sini, belum dianggap ustadz yang berani. Belum berhak mendapatkan tepuk tangan dan belum dianggap sebagai ulama.

Jadi menurut pengikutnya, seorang ustadz harus berani mencaci maki sesama umat Islam, baru dia dianggap punya ilmu. Kalau belum mencaci, berarti ilmunya masih cetek alias dangkal.

Kesalahan Paradigma

Ini adalah kesalahan paradigma berpikir yang teramat fatal. Dan tidak boleh didiamkan begitu saja. Harus dihentikan dan diakhiri.

Dakwah kita sekarang ini sudah masuk ke era dialog yang santun dengan sesama elemen dakwah. Sebab perpecahan umat Islam tidak lain bersumber dari perpecahan elemen dakwah itu sendiri.

Sebuah masalah khilafiyah tidak harus selalu disikapi dengan sikap permusuhan, apalagi sampai harus menyakiti hati orang lain. Khilafiyah biarkan saja tetap khilafiyah. Dan marilah kita tetap bersaudara dalam khilafiyah.

Jangan jadikan urusan khilafiyah sebagai komoditas dalam kepopuleran diri atau daya tarik untuk memperbanyak pengikut. Jadikan masalah khilafiyah ini sebagai media kita untuk mempererat tali ukhuwah.

Kalau semua ketidak-puasan atas suatu masalah khilafiyah harus ditanggapi secara barbar seperti itu, maka yakinlah bahwa umat Islam masih akan tetap centang perenang sampai akhir zaman. Dakwah yang dikibar-kibarkan hanya akan menjadi sia-sia, karena melahirkan ribuan hati yang terluka.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
(Dosen Kampussyariah.com)

Advertisements

Actions

Information

One response

6 06 2009
ani hasibuan

Saya sendiri tidak mengerti apa yg dimaksud dgn salafi itu, buat sy sendiri, sy coba pahami agama dg cara yg sederhana. Perintah-perintah Tuhan yg tertulis dlm Qur’an sy terima sbg dogma, kalau di kemudian hari sy menemukan manfaat dari perintah2 itu, sy terima sbg keterbatasan sy dlm memahami Tuhan. Soal perbedaan2 ritual dlm agama, buat sy sm sekali tidak penting. Sy pahami ritual sbg simbol hubungan vertikal, yg sy yakini toleransinya amat luas dan mgkn hampir-hampir tanpa batas. Sementara dlm hubungan horizontal, menurut sy simbol2 dan tatacaranya amat logis dan bersifat universal. Jadi pada dasarny, tak ada yg perlu diributkan dlm ritual agama. Sementara dlm hubungan manusia, lingkungan, dan makhluk lain, perbedaan-perbedaan itu sy coba pahami sebagai bagian dari ketidak sempurnaan manusia dan keberagaman ciptaan Tuhan, wallahu a’lam bisshowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: