Puasa : Pengertian dan Pensyariatannya

26 07 2010

A. Pengertian Puasa
Puasa dalam bahasa arab adalah shaum dan bentuk pluralnya adalah shiyam. Secara ilmu bahasa, shaum berart al-imsak yang berarti ‘menahan’. Sedangkan menurut istilah syariah, shaum itu berarti : Menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual dan hal-hal lain yang membatalkannya sejak subuh hingga terbenam matahari dengan niat ibadah.

Puasa adalah ibadah yang bukan hanya diperintahkan Allah Subhanahu Wata‘ala kepada umat Nabi Muhammad saja, namun juga kepada umat-umat sebelum beliau.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Namun ada beberapa aturan teknis yang berbeda. Misalnya, Nabi Daud as dahulu diperintahkan puasa bukan hanya pada bulan Ramadhan saja melainkan sepanjang tahun untuk seumur hidup. Hanya saja puasanya selang seling sehari puasa dan sehari tidak. Sedangkan puasa yang disyariatkan kepada Nabi Zakaria, Yahya, Maryam dan Isa as tidak boleh berbicara, selain tidak boleh makan dan minum. Sebagaimana yang telah difirmankan di dalam Al-Quran Al-Karim. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.(QS. Maryam : 26)

B. Syariat Puasa
Kepada ummat Nabi Muhammad SAW, kewajiban berpuasa hanya di bulan Ramadhan, yaitu satu bulan penuh diantara 11 bulan lainnya dalam setahun. Selama berpuasa, umat Islam diharamkan makan, minum dan berhubungan suami istri. Namun boleh berbicara. Kewajiban puasa bulan Ramadhan disyariatkan pada tanggal 10 Sya‘ban di tahun kedua setelah hijrah Nabi SAW ke Madinah. Sesudah diturunkannya perintah penggantian kiblat dari masjidil Al-Aqsha ke Masjid Al-Haram.
Semenjak itulah Rasulullah SAW menjalankan puasa Ramadhan hingga akhir hayatnya sebanyak sembilan kali dalam sembilan tahun. Puasa Ramadhan adalah bagian dari rukun Islam yang lima. Oleh karena itu mengingkari kewajiban puasa Ramadhan termasuk mengingkari rukun Islam. Dan pengingkaran atas salah satu rukun Islam akan mengakibatkan batalnya ke-Islaman seseorang. Sedangkan kewajiban puasa Ramadhan didasari olel Al-Quran, As-Sunah dan Ijma‘.





Pelatihan Dasar Faraidh (PDF) — (2)

1 02 2010

Alhamdulillah pelaksanaan Pelatihan Dasar Faraidh (PDF) telah selesai dilaksanakan dalam 2 Angkatan.

Angkatan 1 , Sabtu 30 Januari 2010 jam 08.00 s/d 16.30 WIB
Angkatan 2 , Ahad 31 Januari 2010 jam 08.00 s/d 16.30 WIB
bertempat di Aula DU Center Jalan Karet Pedurenan no. 53, Karet Kuningan,
Setiabudi Jakarta Selatan. dibimbing oleh Ust.Ahmad Sarwat, Lc.

Materi yang dibahas dalam pelatihan ini adalah :

 Sesi 1 : mengapa kita wajib mempelajari ilmu faraidh?
 Materi
 Tanya jawab
 Latihan
 Sesi 2 : Pengertian, rukun, syarat, mawani’ dan pemilahan harta
 Materi
 Tanya jawab
 Latihan
 Sesi 3 : Metode pembagian waris
 Materi
 Tanya jawab
 Latihan
 Sesi 4 : Konsep dan implementasi ‘aul dan radd
 Materi
 Tanya jawab
 Latihan
 Sesi 5 : TEST AKHIR

Mungkinkah kita yang awam ini dapat belajar ilmu faraidh secara sistematis, singkat, padat dan hanya dalam sehari? Jawabnya kenapa tidak.

Kalau metodenya dibuat semudah mungkin, dengan membuang perkara-perkara yang tidak terlalu sering terjadi, dibantu dengan diagaram, tabel serta logika nalar yang mudah, ternyata belajar ilmu faraidh bisa berubah jadi mudah dan menyenangkan.

Adalah Rasulullah SAW junjungan kita yang sejak 14 abad yang lalu telah mewanti-wanti umatnya agar mempelajari ilmu faraidh. Tidak berhenti sampai disitu, beliau SAW juga meminta umatnya untuk mengajarkannya juga kepada yang lain.

تَعَلَّمُوا الفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهُ فَإِنَّهُ نِصْفُ العِلْمِ وَإِنَّهُ يُنْسَى وَهُوَ أَوَّلُ مَا يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي

Pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku”. (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim)

Jadi bukan mengada-ada kalau saat ini kita belajar ilmu yang sudah langka. Juga bukan mengada-ada kalau dengan ilmu itu kita juga ajarkan lagi kepada anak istri kita. Setidaknya kepada lingkungan terdekat. Sebab secara khusus Rasulullah SAW memang telah memerintahkan hal itu.

Kalau di zaman sekarang ini ada begitu banyak metode belajar baca Al-Quran yang singkat, kenapa pula ilmu faraidh ini tidak kita kemas dalam bentuk pelatihan singkat sehari selesai. Memang kalau mau jadi ekspert dalam ilmu faraidh tentu tidak mungkin dicapai dalam sehari. Tetapi setidaknya, peserta pelatihan sudah punya pengetahuan dasar teori dan praktek membagi waris yang umum terjadi di tengah masyarakat.

Pilihan mengemas dalam satu paket pelatihan sehari ini agaknya memang lebih realistis, ketimbang diselipkan dalam materi pengajian yang pasti akan kekurangan durasi.

Anda tertarik untuk mengikuti paket pelatihan dasar faradih ini ?

Daftarkan saja ke :
Sekretariat Kampussyariah
DU Center Jl. Karet Pedurenan No.53, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan
Telp. : 021-5795 1088
Fax. : 021-5795 1089
e-mail : admks04@yahoo.com

Kami juga siap mengadakan pelatihan inhouse training di kantor / lembaga saudara/i.

Demikian semoga bermanfaat, Jazakumulloh Khair

Cerdas Syariah bersama Kampus Syariah





Pelatihan Dasar Faraidh (PDF) di DU CENTER

27 01 2010

Mungkinkah kita yang awam ini dapat belajar ilmu faraidh secara sistematis, singkat, padat dan hanya dalam sehari? Jawabnya kenapa tidak. Itulah yang Insya Allah akan digelar pada Sabtu 30 Januari 2010 jam 08.00 s/d 16.00 di Aula DU Center Jalan Karet Pedurenan no. 53, Karet Kuningan, Setiabudi Jakarta Selatan. dibimbing oleh Ust.Ahmad Sarwat, Lc.

Kalau metodenya dibuat semudah mungkin, dengan membuang perkara-perkara yang tidak terlalu sering terjadi, dibantu dengan diagaram, tabel serta logika nalar yang mudah, ternyata belajar ilmu faraidh bisa berubah jadi mudah dan menyenangkan.

Adalah Rasulullah SAW junjungan kita yang sejak 14 abad yang lalu telah mewanti-wanti umatnya agar mempelajari ilmu faraidh. Tidak berhenti sampai disitu, beliau SAW juga meminta umatnya untuk mengajarkannya juga kepada yang lain.

تَعَلَّمُوا الفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهُ فَإِنَّهُ نِصْفُ العِلْمِ وَإِنَّهُ يُنْسَى وَهُوَ أَوَّلُ مَا يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي

Pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku”. (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim)

Jadi bukan mengada-ada kalau saat ini kita belajar ilmu yang sudah langka. Juga bukan mengada-ada kalau dengan ilmu itu kita juga ajarkan lagi kepada anak istri kita. Setidaknya kepada lingkungan terdekat. Sebab secara khusus Rasulullah SAW memang telah memerintahkan hal itu.

Kalau di zaman sekarang ini ada begitu banyak metode belajar baca Al-Quran yang singkat, kenapa pula ilmu faraidh ini tidak kita kemas dalam bentuk pelatihan singkat sehari selesai. Memang kalau mau jadi ekspert dalam ilmu faraidh tentu tidak mungkin dicapai dalam sehari. Tetapi setidaknya, peserta pelatihan sudah punya pengetahuan dasar teori dan praktek membagi waris yang umum terjadi di tengah masyarakat.

Pilihan mengemas dalam satu paket pelatihan sehari ini agaknya memang lebih realistis, ketimbang diselipkan dalam materi pengajian yang pasti akan kekurangan durasi. Kalau pun dibuat berseri, resikonya bisa kehilangan keterkaitan antara satu materi dengan materi sebelumnya.

Maka kalau tertarik untuk mengikuti paket pelatihan dasar faradih ini,

Daftarkan saja ke :
Sekretariat Kampussyariah
DU Center Jl. Karet Pedurenan No.53 Setiabudi Kuningan Jakarta Selatan
Telp. : 021-5795 1088
Fax. : 021-5795 1089
e-mail : admks04@yahoo.com

Kami juga siap mengadakan pelatihan inhouse training di kantor / lembaga saudara/i.

Demikian semoga bermanfaat, Jazakumulloh Khair

Cerdas Syariah bersama Kampus Syariah





Hukumnya Menjual Kulit Hewan Qurban untuk Biaya Kepanitiaan

13 11 2009

Assalamualaikum wr wb.

Yth. Ustadz. Ahmad Sarwat, Lc.
Mohon izin bertanya. Bagaimana hukumnya menjual kulit hewan qurban oleh panitia qurban dan uang hasil penjualan tersebut dipakai untuk biaya kepanitian, antara lain: konsumsi panitia, sewa peralatan, pembelian kantung-kantung plastik dan membayar kebersihan tempat (halaman masjid). Biasanya uang tersebut tidak selalu habis maka sisanya disimpan sebagai kas Masjid. Apakah hal yang demikian dibolehkan?

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas jawaban Ustadz.

Wassalamualaikum wr. wb.
jawaban

Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Di dalam kitab Bidayatul Mujtahid disebutkan bahwa para ulama seluruhnya sepakat untuk mengharamkan menjual daging hewan qurban. Dalilnya adalah sabda nabi SAW:

من باع جلد أضحية فلا أضحية له – رواه الحاكم وصححه

Siapa yang menjual kulit hewan qurban, maka dia tidak memperoleh qurban apapun. (HR Hakim)

Al-Hakim menshahihkan hadits ini dalam kitab Al-Mauhibah jilid 4 halaman 697.

Sedangkan tentang hukum menjual kulit dan bulunya, ada sebagian yang membolehkannya, yaitu kalangan Imam Abu Hanifah. Namun beliau membolehkannya dengan syarat, yaitu dengan selain uang dinar dan dirham (uang), tetapi dengan barang dagangan alias barter.

Yang benar-benar membolehkan menjual dengan imbalan uang adalah Atha”. Selebihnya, jumhur ulama sepakat mengharamkan jual beli daging qurban.

Sebagian ulama mazhab As-Syafi”i membolehkan menjual daging hewan qurban sebatas orang miskin yang telah menerimanya. Sedangkan pihak yang memiliki hewan, atau orang yang menerima lewat sedekah, diharamkan menjualnya.

Kulit itu telah menjadi milik orang miskin, sehingga sebagai pemilik, dia berhak menjualnya. Kebolehan itu sendiri karena pertimbangan bahwa orang miskin itu mungkin membutuhkan hal-hal lain di luar daging atau kulit hewan qurban itu.

Disebutkan di dalam kitab Bughytul Mustarsyidin halaman 258: Orang faqir berhak untuk mengelola bagiannya dari hewan qurban, meski dia menjualnya kembali kepada seorang muslim. Hal itu karena dia telah memiliki apa yang telah diberikan kepadanya. Berbeda jika yang mengambil tersebut dari kalangan orang kaya…

Hal yang sama juga terdapat di dalam kitab lainnya seperti Busyral Karim halaman 127 dan kitab Fathul Wahhab jilid 4 halaman 296-299 serta kitab Asnal Matalib jilid 1 halaman 525.

Haramnya menjual kulit hewan qurban ini juga tela ditetapkan olehKeputusan Muktamar ke-27Nahdhatul-Ulama di Situbondo pada tanggal 8-21 Desember 1984. Bunyinya: Menjual kulit hewan qurban tidak boleh kecuali oleh mustahiqnya (yang berhak atas kulit-kulit itu) yang fakir/miskin. Sedangkan mustahiq yang kaya, menurut pendapat yang muktamad tidak boleh.

Wallahu ”alam bishshawab, wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1167277320&cari=qurban&tanya=subject





Ragu-Ragu dengan Bekas Najis di Mana-Mana

23 07 2009

sholat

Ragu-Ragu dengan Bekas Najis di Mana-Mana
(disadur dari warnaislam.com)

Pertanyaan

Assalamualaikum Ustadz

Saya begitu taksub berhubung najis, sehingga setiap benda yang jatuh di lantai, di laluan orang ramai, di dalam kereta, di dalam pejabat dan pelusuk bumi bagi saya benda itu adalah najis kerana berfikiran tempat-tempat tersebut dipijak manusia di mana tapak kasut/sandar mereka pernahmemasuki tandastandas.

Sebagai contoh lagi jika kertas jatuh di atas lantai pejabat saya akan membasuhnya kerana lantai dipijak oleh kasut yang pernah ke tandas.

Tetapi saya tengok orang lain tiada masalah seperti saya. Pernah saya cuba mengubah hidup saya seperti orang lain tapi tak berjaya tetapi bila saya tak dapat selesaikan masalah najis saya letak diri saya seperti orang lain

Ustaz minta dipercepatkan jawapan soalan saya ini kerana saya agak sukar dengan situasi najis seperti ini sekarang. Saya menunggu respon ustaz.

rashid mohamad

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mohon maaf kalau ada sedikit kendala bahasa, karena memang nyatanya bahasa Indonesia dan Malaysia agak sedikit berbeda dengan penggunaan istilah. Di sini pejabattidak berdiri di sepanjangjalan seperti Malaysia. Yang berderet sepanjang jalan adalah gedung kantor, kalau pejabat adanya di dalam kantor itu.

Jadi kami akan jawab pakai bahasa Indonesia saja, dari pada nanti salah paham.

Ya akhinal fadhil, masalah najis yang ada di atas tanah itu akan menjadi najis selama ada nampak ‘ain najis itu. Dalam bahasa kita, yang dimaksud dengan ‘ain najis adalah objek najis itu atau bendanya. Dan kalau ‘ain najis itu tidak ada, maka kita hanya dituntut secara dzhahir oleh Allah SWT dalam menetapkan hukum.

Istilah kerennya, nahnu nahkumu bidzhdzhawahir wallahu yatawallas sarair. Kita menetapkan hukum berdasarkan apa yang nampak saja, sedangkan di luar dari yang nampak nyata, itu urusan Allah SWT.

Maka syariat Islam ini tidak meminta kita menjadi menjadi seorang paranoid, yang selalu punya rasa was-was segala benda selalu harus dianggap najis.Dan nabi SAW telah memerintahkan agarperasaan was-was, syak dan dzhan itu harus ditinggalkan. Mari kita hidup di alam nyata, bukan di alam lain yang paranoid.

Hilangnya Najis di Sendal atau Sepatu

Sebenarnya ketika sepatu atau sendal kita terinjak sesuatu barang yang najis, kita tidak perlu secara khusus membersihkannya. Sebab ketika kita berjalan dan sendal itu kemudian menginjak tanah, sudah cukuplah proses menginjak tanah itu sebagai proses pensuciannya.

Hal itu telah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits berikut ini:

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila sendal kalian menginjak kotoran, maka tanah akan mensucikannya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Bila seseorang menginjak kotoran dengan kedua sepatunya, maka pensuciannya dengan tanah.” (HR Abu Daud)

Yang lebih menarik lagi, di zaman nabi SAW para shahabat terbiasa shalat di masjid dengan tetap mengenakan sepatu mereka. Tidak ada lantai marmer atau keramik. Sepatu yang bekas menginjak apa pun di jalan itu, masuk ke masjid dan tetap dikenakan, bahkan mereka shalat dengan tanpa membuka sepatu.

Anda pasti akan teriak-teriak kaget kalau melihat itu. Tapi ingat, yang melakukannya justru para shahabat nabi, yang dari mereka itulah kita mengenal agama ini.

Coba bayangkan pemahaman fiqih kita sedemikian ketat seperti ini, lalu kita melihat para shahabat nabi melakukan itu, kalau saja mereka bukan para shahabat nabi, mungkin kita sudah mengatakan bahwa shalat mereka tidak sah. Padahal coba perhatikan hadits berikut ini:

Dari Abi Said radhiyallahu ‘anhu bahwaNabi SAWbersabda, “Bila kalian masuk masjid, maka kesetkanlah kedua sepatunya dan hendaklah dia melihat. Bila melihat najis maka hendaklah dikesetkan ke tanah dan setelah itu boleh shalat dengan sepau itu. (HR Ahmad dan Abu Daud)

Kalau kita perhatikan dua hadits di atas, betapa mudah dan ringannya agama ini.

Indikator Najis

Indikator najissudah ditetapkan oleh para ulama dari berbagai mazhab, termasuk mazhab Asy-syafi’i, mazhab yang terkenal paling ketat dalam masalah najis. Indikator najis ada tiga, yaituwarna, aroma dan rasa.

Kalau di lantai nampak ada sebuah area yang berwarna khas najis, maka lantai itu memang najis. Tapi kalau ada kertas jatuh di tempat di mana ada warna najis itu, kita tidak bisa lantas mengatakan bahwa kertas itu tertular najis.

Kita harus lihat dulu, apakah ada warna najis itu tertempel di kertas itu atau tidak? Kalau ada warna najis di kertas itu, jelas bahwa kertas itu terkenanajis. Tapi kalau ternyata di kertas itu tidak ada warna apa pun, meski sempat tersentuh najis, tapi najisnya tidak berpindah ke kertas itu.

Indikator yang kedua adalah aroma atau bau. Selama ada bau najis pada suatu benda, maka benda itu boleh dibilang terkena najis. Tapi kalau bau itu tidak tercium, maka benda itu tidak boleh dibilang terkena najis.

Indikator ketiga adalah rasa atau taste, tempatnya di lidah, bukan di hati. Itulah makna yang sesungguhnya tentang rasa najis. SIlahkan dijilat dan dicicipi, apakah terasa sebagai rasa najis atau bukan. Kalau rasanya tidak menunjukkan indikasi benda najis, mengapa harus dibilang najis?

Jadi selama suatu benda tidak memiliki rasa, warna dan aroma najis, kita tidak boleh menghukuminya sebagai benda yang terkena najis.

Dan perasaan kita tidak boleh ikut bermain di sini. Sebab masalah najis adalah masalah pisik, bukan masalah hati. Kalau mau memainkan peranan hati, kita bicara di bab tasawwuf. Tapi urusan fiqih adalah murni 100% urusan pisik.

Dan kita pun tidak perlu menggunakan test menggunakan microskop electronik untuk sekedar mengatahui apakah najis itu ada atau tidak. Juga tidak membutuhkan test DNA dan sejenisnya. Sebab najis itu urusan pisik yang indikatornya cukup mengguanakan mata biasa untuk melihat perbedaan warna najis, hidung untuk membaui aroma najis dan lidah untuk mencicipi rasa najis.

Kalau tidak ada laporan dari mata, hidung dan lidah, maka benda itu tidak najis. Begitulah syariah Islam mengajarkan kita untuk bersikap kepada najis. Dan begitu pula mazhab Asy-syafi’i mengajarkan fiqih thaharah.

Karena anda orang Malaysia, biasanya di sana orang-orang bermazhab syafi’i tulen, lebih serius dari orang Indonesia yang mazhabnya bisa macam-macam.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ust Ahmad Sarwat, Lc
Ahmad Sarwat, Lc
(kampussyariah.com)





Nikah, Main-Main Pun Jadi?

20 07 2009

nikah

Nikah, Main-Main Pun Jadi?
(disadur dari warnaislam.com)

Pertanyaan

Assalamua’alaikum Ustadz,

Saya ingin bertanya tentang sebuah hadis yang bunyinya, ” tiga hal yang dilakukan serius jadi dan dilakukan main-main jadi, yaitu nikah, thalaq dan rujuk” (Hadis shahih menurut Ahmad, Riwayat Empat Imam kecuali Nasa’i)

1. Apa maksudnya nikah itu jadi walaupun dilakukan main-main?
2. Ada seorang teman yang berkata “Nikahnya sama aku aja…” apakah itu bisa dikatakan sebagai khitbah? (Padahal ia mengucapkan itu hanya bercanda) Apakah hal ini yang dimaksud dalam hadist tersebut?

Demikian pertanyaan saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang dimaksud dengan main-main adalah apabila akad nikah dilakukan oleh para pihak yang memang punya wewenang untuk melakukanya.

Para pihak itu yang pertama adalah ayah kandung si gadis. Apabila seorang Ayah dari seorang gadis mengucapkan ijab, walau pun sambil bercanda atau main-main, maka tetap dianggap serius. Ijab itu setidaknya mengandung makna yang intinya menikahkan anak gadis itu dengan orang yang diajak bicara.

Misalnya ucapan sepert ini, “Kamu Aku nikahkan dengan anakku si Jamilah.” Atau ungkapan seperti ini, “Kamu saya jadikan suami anak saya si Wardah.” Dan ungkapan lain yang sejenis.

Lafadz seperti itu walau pun diucapkan main-main, tetap terhitung serius dan sah dalam hukum Islam sebagai ijab.

Para pihak kedua adalah orang yang diajak bicara oleh Ayah si gadis itu, dengan syarat orang itu muslim, laki-laki, dan menjawab ijba itu dengan lafadz qabul.

Lafadz qabul itu intinya merupakan persetujuan atas lafadz ijab yang sebelumnya diucapkan. Bahkan para ulama mengatakan bahwa satu ucapan yang maknanya berupa bersetujuan sekali pun, sudah dianggap sah sebagai qabul.

Misalnya, si laki-laki itu mengucapkan, “Ya.” Atau dia mengatakan, “Oke.” Atau dia bilang, “Yes”, sambil mengepalkan tangan. Maka ucapan itu sudah dianggap sebagai lafadz qabul yang sah dalam hukum Islam.

Lalu apakah sudah sah akad nikah itu?

Belum, jangan terburu-buru dulu. Selama kedua belah pihak saling berijab dan qabul namun kalau tidak ada saksinya, tetap saja akad itu belum sah.

Untuk itu, keberadaan dua orang saksi menjadi penentu, apakah ijab kabul itu sah atau tidak. Syarat sebagai saksi adalah:

1. Laki-laki
2. Muslim
3. Berakal
4. Baligh
5. Adil
6. Jumlahnya minimal dua orang

Nah, bila semua unsur di atas telah terpenuhi, maka barulah akad nikah itu sah. Walau pun dilakukan tanpa sengaja atau tidak serius. Walau pun dilakukan sambil main-main. Walau pun tidak dilakukan di depan KUA. Walau pun tidak ada lagi orang lain selain empat orang itu saja. Walau pun dilakukan di dalam mobil yang sedang berjalan, atau di atas pesawat yang terbang di langit biru. Walau pun dan walau pun…

Khitbah

Ada pun apakah canda seorang laki-laki kepada seorang wanita untuk menjadi isterinya, apakah terhitung khitbah atau tidak, tentu saja tergantung dari kedua belah pihak.

Sebab khitbah itu bisa kira-kira bisa diibaratkan orang mau beli barang, meski belum terjadi jual beli yang sesungguhnya, cuma sudah memberi uang muka sebagai tanda jadi.

Dengan adanya uang muka atau tanda jadi itu, pemilik barang untuk sementara waktu tidak boleh menjual barang itu kepada pihak lain. Tentu saja waktunya bersifat sementara saja, misalnya seminggu.

Bila dalam waktu seminggu, si calon pembeli tidak segera melunasi sisa pembayarannya, maka uang mukanya hangus, ikatan untuk jual beli putus, dan barang bisa dijual kepada pihak lain.

Demikian juga dengan khitbah, tidak asal becanda tiba-tiba dianggap sudah khitbah. Harus ada titik kesepaktan antara calon suami dengan orang yang paling berhak atas diri seorang gadis, yaitu Ayah kandungnya.

Kalau seorang calon suami ingin menikahi seorang gadis, maka khitbah itu harus disampaikan kepada Ayahnya langsung, bukan kepada si gadis. Si gadis tidak tahu apa-apa dan tidak punya hak secara hukum untuk menerima pinangan orang begitu saja.

Yang namanya melamar atau khitbah adalah menyampaikan keinginan untuk menikahi. Tentu saja keinginan itu bisa diterima atau ditolak. Selama belum ada ungkapan yang menyatakan bahwa lamaran itu diterima, maka status wanita itu belum makhtubah, artinya dia belum sah dilamar orang.

Sehingga bisa saja siapa pun mengajukan lamaran yang sama. Toh kalau semua lamaran itu masih baru ditampung, belum ada satu pun yang disetujui, maka masih selalu terbuka peluang untuk laki-laki mana saja untuk mengajukan lamaran.

Tapi kalau salah satu lamaran itu sudah diterima, maka barulah status gadis itu menjadi makhtubah. Siapapun tidak boleh mengajukan lamaran baru, kecuali bila lamaran yang sudah ada itu kemudian batal karena suatu sebab.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum waramatullahi wabarakatuh,

Ust Ahmad Sarwat, Lc
Ahmad Sarwat, Lc
(dosen kampussyariah.com)





Buku Fiqih Ramadhan

1 07 2009

Dapatkan segera !!!
Buku Fiqih Ramadhan oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc

Kajian Fiqh Ikhtilaf Seputar Ramadhan

poster buku








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.